Kekuatan Laut yang Terlupakan

Sebelum Majapahit berdiri, sebelum Islam menyapa pesisir Nusantara, ada sebuah kerajaan yang begitu berkuasa hingga para pedagang Arab, India, dan Tiongkok menyebutnya sebagai penguasa lautan. Itulah Sriwijaya — sebuah imperium maritim yang berpusat di Sumatra dan mendominasi Asia Tenggara dari sekitar abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.

Anehnya, meski begitu berkuasa, Sriwijaya lama terlupakan. Baru pada abad ke-20, terutama berkat penelitian sejarawan Prancis George Cœdès pada tahun 1918, dunia kembali mengenal kebesaran kerajaan ini melalui penafsiran prasasti-prasasti kuno.

Lokasi dan Berdirinya Kerajaan

Sriwijaya diperkirakan berdiri sekitar abad ke-7 Masehi, dengan pusat kekuasaan di sekitar Palembang, di tepi Sungai Musi, Sumatra Selatan. Lokasi ini sangat strategis — berada di dekat Selat Malaka, jalur perdagangan paling penting antara Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan.

Prasasti tertua yang menyebut Sriwijaya adalah Prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang ditemukan di dekat Palembang. Prasasti ini mengisahkan ekspedisi militer Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa dan menjadi bukti awal keberadaan kerajaan ini.

Kekuatan Maritim dan Perdagangan

Kekuatan utama Sriwijaya terletak pada armada laut dan kendalinya atas jalur perdagangan. Kerajaan ini menerapkan sistem pemungutan pajak atas semua kapal yang melewati Selat Malaka. Mereka yang membayar mendapat perlindungan; yang menolak menghadapi armada laut Sriwijaya yang ditakuti.

Komoditas utama yang diperdagangkan melalui Sriwijaya meliputi:

  • Rempah-rempah — Cengkih, pala, dan lada dari kepulauan timur
  • Kapur barus — Komoditas langka dari Sumatra yang sangat berharga
  • Emas dan perak dari pertambangan Sumatra
  • Damar dan rotan dari hutan Kalimantan
  • Kain dan porselen dari India dan Tiongkok

Pusat Pendidikan Buddha Asia

Salah satu aspek yang paling mengesankan dari Sriwijaya adalah perannya sebagai pusat pendidikan dan penyebaran ajaran Buddha di Asia. Pendeta Tiongkok terkenal, Yi Jing, mengunjungi Sriwijaya pada tahun 671 M dan tinggal di sana selama bertahun-tahun. Dalam catatannya, ia memuji Sriwijaya sebagai pusat pembelajaran Buddha yang setara dengan India, dengan ribuan biksu yang belajar di sana.

Para pelajar dari berbagai penjuru Asia — India, Tibet, Tiongkok, Jawa — datang ke Sriwijaya untuk mempelajari bahasa Sansekerta dan ajaran Buddha Mahayana sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Sriwijaya adalah "universitas" Buddha Asia Tenggara pada masanya.

Wilayah Pengaruh Sriwijaya

Pada puncak kejayaannya (sekitar abad ke-9 M), pengaruh Sriwijaya meliputi:

  • Sebagian besar Sumatra
  • Semenanjung Malaya (Malaysia dan Thailand selatan saat ini)
  • Bangka dan Belitung
  • Sebagian Jawa Barat dan Kalimantan Barat
  • Kepulauan di Selat Malaka

Keruntuhan Sriwijaya

Kemunduran Sriwijaya bermula dari serangan kerajaan Chola dari India Selatan pada tahun 1025 M, yang berhasil menjarah ibukota dan menawan rajanya. Meski sempat bangkit kembali, serangan berulang dari Chola, kompetisi dari kerajaan-kerajaan Jawa, dan akhirnya ekspansi Singasari di bawah Raja Kertanagara (akhir abad ke-13) secara bertahap melemahkan Sriwijaya hingga lenyap dari panggung sejarah.

Warisan Sriwijaya

Sriwijaya meninggalkan warisan yang tersemat dalam identitas Indonesia. Nama "Sriwijaya" kini menjadi nama maskapai penerbangan nasional pertama Indonesia, nama jembatan, institusi pendidikan, dan berbagai simbol kebanggaan daerah Sumatra Selatan. Ia mengingatkan kita bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut dan pedagang ulung yang pernah memimpin peradaban Asia Tenggara.